handphone-tablet

Dekonstruksi Ekonomi Kapitalis

Dekonstruksi Ekonomi Kapitalis

Ekonomi Kapitalis

Bila kita paparkan sistem ekonomi dalam pandangan ideologi Kapilalis, maka kita akan menemukan bahwa ekonomi dalam pandangan mereka adalah apa yang membahas tentang kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia beserta alat-alat (goods) pemuasnya. Dimana ia sesungguhnya hanya membahas masalah yang menyangkut aspek-aspek yang bersifat materi dari kehidupan manusia.

 

Bangunan Sistem Ekonomi Kapitalis

Sistem ekonomi Kapitalis dibangun dengan 3 (tiga) kerangka dasar.

  1. Kelangkaan atau keterbatasan barang-barang dan jasa-jasa yang berkaitan dengan kebutuhan manusia, sedangkan kebutuhan manusia yang beraneka ragam dan terus-menerus bertambah kuantitasnya. Inilah yang mereka anggap sebagai masalah ekonomi.
  2. Nilai (value) suatu barang yang dihasilkan, itulah yang menjadi dasar penelitian ekonomi, bahkan yang paling sering dikaji.
  3. Harga (price) serta peranan yang dimainkannya dalam produksi, konsumsi dan distribusi. Dimana harga merupakan alat pengendali dalam sistem ekonomi kapitalis.

Masalah Kelangkaan dan Keterbatasan Barang dan Jasa

Secara relatif hal itu memang betul ada pada karakteristik barang dan jasa itu sendiri sebagai alat pemuas kebutuhan manusia. Mereka mengatakan bahwa manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi dan karena itu, maka harus ada alat pemuasnya. Sedangkan kebutuhan itu hanya bersifat materi semata.

Gerangan apa yang menyebabkan barang dan jasa itu menjadi alat pemuas? Menurut mereka adalah karena kegunaannya (utility). Pandangan inilah yang melahirkan penilaian mereka, bahwa sesuatu itu berguna dari kacamata ekonomi, sekalipun persepsi umum menganggap tidak bermanfaat atau justru berbahaya, misalnya candu, khamr dll. Mereka hanya memperhatikan objek pembahasan ekonomi itu dari segi apakah bisa memuaskan kebutuhan ataukah tidak. Olehkarena itu, perhatian para pakar ekonomi hanya bertumpu pada peningkatan produksi barang dan jasa.

 

Masalah Nilai (value)

Sedangkan nilai (value) barang yang dihasilkan diukur sesuai dengan tingkat kegunaannya, yang bisa jadi juga berkaitan dengan individu tertentu (nilai guna/utility value), bisa jadi juga berkaitan dengan barang lain (nilai tukar/exchange value)

Nilai Guna (utility value), adalah satuan dari satu barang, yang diukur berdasarkan kegunaan terakhir benda tersebut, atau kegunaan pada satuan yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan paling rendah. Inilah yang mereka maksud dengan teori kepuasan batas atau kepuasan akhir (marginal satisfaction theory).

Nilai Tukar (exchange value) bersifat subjektif sekali. Apabila nilai tukar (exchange value) itu ada pada sebuah barang, maka barang itu memiliki nilai yang layak tukar. Mereka mendefinisikan nilai tukar sebagai kekuatan tukar pada barang, terkait dengan barang lain.

Dua nilai ini, menurut mereka harus dibedakan. Nilai dalam arti batasan semacam ini adalah sesuatu yang salah. Karena nilai barang apa pun, sebenarnya semata-mata ditentukan oleh manfaatnya, dengan memperhatikan faktor kelangkaannya. Sehingga pandangan yang hakiki terhadap barang apa pun, adalah pandangan terhadap manfaat dengan memperhatikan faktor kelangkaannya. Baik yang dimiliki oleh manusia sejak asal semisal hasil buruan, atau karena pertukaran semisal hasil penjualan, atau barang tersebut terkait dengan orang lain maupun terkait dengan orang lain maupun terkait dengan benda.

Karena itu, nilai hakikatnya adalah nama bagi sebutan tertentu yang pasti; bukan nama benda yang bersifat dugaan. Jadi, nilai itu hakikatnya adalah sesuatu yang memiliki fakta dan dapat dijangkau, bukan merupakan sesuatu yang nisbi (relatif). Karena itu, pandangan para ekonom terhadap nilai adalah pandangan yang salah dari asasnya.

Nilai Batas (marginal value).Sedangkan yang dimaksud dengan nilai batas (marginal value), yaitu perkiraan bagi tingkat produksi yang disesuaikan dengan tingkat kecenderungan yang berhubungan dengan penjualan barang-barang, bahkan tidak ada kaitannya dengan harga barang. Karena nilai barang itu semata ditentukan oleh perkiraan guna (utility) barang tersebut dengan memperhatikan faktor kelangkaannya pada saat tertentu. Dimana setelah itu, turunnya harga barang tidak akan mengurangi nilainya, sebagaimana naiknya harga barang tidak akan menambah nilainya. Sebab nilai barang sudah ditentukan. Karena itu, teori batas (marginal theory) hakikatnya adalah teori tentang harga, bukan teori tentang nilai.

Para ekonom Kapitalis mengatakan, bahwa manfaat adalah hasil jerih payah yang telah dicurahkan oleh manusia. Maka, apabila upah –yang diberikan- tidak sebanding dengan kerjanya, tentu tingkat produksi akan menurun. Karena itulah, maka mereka akan berkesimpulan bahwa cara (metode) yang paling ideal untuk mendistribusikan kekayaan kepada anggota masyarakat adalah cara yang harus bisa menjamin tercapainya tingkat produksi setinggi-tingginya. Pernyataan ini amat keliru. Karena kenyataannya, kekayaan yang telah diciptakan Allah di alam inilah yang sebenarnya merupakan asas (dasar) manfaat barang-barang tersebut. Sedangkan jumlah biaya (cost) yang telah dikorbankan untuk menambah manfaat kekayaan tersebut, atau mengupayakan manfaat kekayaan tersebut dengan disertai tindakan tertentu, itulah yang sebenarnya telah menjadikan kekayaan tadi secara pasti menghasilkan manfaat tertentu.

Masalah Harga (price)

Adalah nilai tukar (exchange value) barang dengan uang tertentu. Maka, ketika harga merupakan salah satu nilai, secara pasti harga itu merupakan standar (tolak ukur) bagi barang, apakah barang itu bernilai guna (utility) atau tidak (disutility). Dia juga merupakan standar (tolak ukur) bagi tingkat kegunaan barang itu. Oleh karena itu barang dan jasa itu dinilai memiliki kegunaan dan produktifitas, apabila masyarakat menentukan barang dan jasa tertentu itu dengan harga tertentu. Sedangkan tingkat kegunaannya, diukur dengan harga yang diterima oleh kelompok konsumen yang diberikan kepada produsen untuk memperoleh barang tersebut.

Yang akan menentukan penawaran (supply) adalah beban produksi barang, sedangkan yang akan menentukan kekuatan permintaan (demand) pasar barang tersebut adalah kegunaan barang. Karena itu, menurut orang-orang Kapitalis, pembahasan tentang penawaran dan permintaan itulah yang menjadi dua pembahasan utama dalam ekonomi. Jadi yang dimaksud dengan penawaran dan permintaan itu adalah penawaran dan permintaan di pasar.

Seperti halnya permintaan (demand) tidak mungkin bisa dinyatakan selain dengan menyebut satuan harga, maka begitu pula dengan penawaran (supply) juga tidak bisa ditentukan dengan selain harga. Hanya saja permintaan itu akan berubah dengan kebalikan perubahan harga. Karena itu, apalagi harga naik, maka permintaan akan turun, sebaliknya apabila harga turun, maka permintaan akan naik.

Berbeda dengan penawaran, sebab penawaran itu akan berubah dengan mengikuti perubahan harga, dan searah dengan perubahan harga tersebut. Dimana, penawaran itu bertambah dengan naiknya harga (di pasar) dan penawaran akan menurun, apalagi harga (di pasar) turun. Dalam masing-masing kondisi itu, harga memiliki kekuatan yang besar dalam menentukan tingkat produksi dan konsumsi.

Struktur harga merupakan metode yang paling akurat untuk mendistribusikan barang dan jasa kepada anggota masyarakat.

Sedangkan keberadaan harga sebagai pendorong laju produksi itu adalah, karena sebagai pendorong utama manusia untuk melakukan aktivitas dalam bentuk usaha produktif, atau untuk melakukan suatu pengorbanan. Hal itu ditentukan oleh insentif yang berupa materi untuk mencurahkan tenaga atau pengorbanan tersebut. Para pakar ekonomi Kapitalis, bahkan menjauhi pembahasan aktivitas manusia mencurahkan tenaganya karena dorongan moral atau spiritual.

Adapun harga yang berfungsi untuk mengatur distribusi (barang dan jasa), adalah karena manusia itu ingin memenuhi seluruh kebutuhannya. Karena itu, dia berusaha untuk meraih sejumlah barang dan jasa yang memenuhi seluruh kebutuhannya. Andaikata tiap orang dibebaskan untuk memanuhi kebutuhan-kebutuhannya, niscaya ia tidak akan pernah berhenti mengumpulkan dan mengkonsumi barang-barang yang ia inginkan. Akan tetapi kalau tiap orang selalu berusaha meraih hingga meraih pada satu tujuan, maka pasti orang itu akan berhenti memenuhi kebutuhan-kebutuhannya pada batas-batas yang menjadi kesanggupan pertukaran tenaganya dengan tenaga orang lain; atau sampai pada batas harga (yang sanggup mereka tawar).

Sedangkan keberadaan harga (price) sebagai penyeimbang (balance) antara tingkat produsen dan konsumen, itu karena produsen yang memenuhi keinginan-keinginan para konsumen supaya dipuaskan dengan adanya keuntungan yang diperoleh. Dialah yang menjadi alat pengubung antara produsen dan konsumen. Hal ini berjalan secara otomatis. Dari sinilah, maka harga –menurut mereka- adalah tiang yang menjadi penyangga ekonomi. Bagi mereka harga dalam ekonomi ibarat alat pengendali.

Para ahli ekonomi Barat berpendapat, bahwa harga (price) adalah pendorong laju produksi. Sebab yang mendorong manusia untuk mencurahkan jerih payahnya adalah imbalan yang bersifat materi. Ini adalah ungkapan yang bertentangan dengan fakta, dan jelas tidak tepat. Sebab, banyak usaha yang telah dikeluarkan oleh manusia selain hal di atas, seperti untuk memenuhi kebutuhan moral atau untuk kebutuhan spiritual. Karena itu, harga bukan satu-satunya yang bisa mendorong tingkat produksi. Kadang kala oleh harga, dan kadang oleh yang lain. Misalnya: pekerja pemecah batu untuk masjid, produsen untuk fakir miskin secara cuma-cuma.

Yang sangat ganjil dalam sistem ekonomi Kapitalis yang mengatakan bahwa harga sebagai penentu satu-satunya bagi distribusi kekayaan kepada anggota masyarakat. Mereka mengatakan, bahwa hargalah sebagai pengendali yang menjadikan manusia, ketika mengumpulkan dan mengkonsumsi barang bergantung pada batas yang sesuai dengan harga barang yang mampu dibelinya.

Berdasarkan kaidah semacam ini, yaitu menjadikan harga sebagai penentu distribusi, maka sistem ekonomi Kapitalis itu telah mengukuhkan bahwa orang yang berhak hidup hanyalah orang yang mampu memberikan andil (saham) untuk menghasilkan barang dan jasa.

Di negara-negara yang sistem ekonominya Kapitalis, jelas-jelas nampak adanya cengkraman kaum borjuis (pemilik modal). Produsen benar-benar menguasai konsumen. Dimana hanya segelintir orang (mis.: PT-PT raksasa, perusahaan perminyakan, mobil dll.) yang menguasai dan mengendalikan mayoritas konsumen, termasuk mengendalikan harga barang yang dibutuhkan para konsumen. Kemudian memberikan hak kepada negara untuk ikut andil menentukan harga dalam kondisi tertentu, yang bertujuan untuk melindungi ekonomi nasional dan melindungi konsumen, serta menekan jumlah konsumsi pada beberapa barang, termasuk menentukan batas kekuasaan para konglomerat (penimbun).

Olehkarena itu, apa yang dilakukan manusia saat ini seperti terjadinya kolonialisme, terkotak-kotaknya daerah jajahan dan perang ekonomi itu, semata merupakan akibat dari persekutuan para konglomerat raksasa tersebut, dan dijadikannya harga sebagai pengendali distribusi kekayaan. Sehingga, bertolak dari asas ini, terjadi pengumpulan kekayaan-kekayaan dunia, kemudian diberikan kepada kaum borjuis (para Kapitalis) tersebut. Semuanya adalah akibat kebobrokan kaidah (prinsip) yang ditetapkan oleh sistem ekonomi Kapitalis.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
ibu anak

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × 3 =